Petenis asal Inggris, Katie Boulter, secara terbuka mengungkapkan bentuk-bentuk pelecehan yang ia dan para atlet lainnya alami dari petaruh olahraga yang kecewa, mulai dari komentar kasar hingga ancaman pembunuhan yang berkaitan langsung dengan hasil pertandingan. Ungkapannya muncul setelah ia menerima serangkaian pesan mengancam selama ajang French Open, yang sebagian besar mengacu pada kekalahan taruhan.
Sisi Gelap Taruhan Olahraga: Ancaman dan Tekanan Psikologis
Katie Boulter menambah daftar panjang atlet profesional yang mulai angkat suara mengenai meningkatnya kasus pelecehan online dari petaruh olahraga yang marah. Dalam pernyataannya yang blak-blakan pasca French Open, ia mengaku bahwa dirinya dan keluarganya telah menerima ancaman pembunuhan—yang secara langsung berhubungan dengan kekecewaan para penjudi terhadap hasil pertandingan yang melibatkan dirinya.
Beberapa pesan bahkan melampaui bentuk kritik biasa, dengan nada penuh kebencian dan kekerasan. Boulter membagikan beberapa contoh pesan yang menyuruhnya “kena kanker” dan menyuruh keluarganya untuk “siapkan lilin dan peti mati.” Ia menjelaskan bahwa pelecehan seperti itu biasanya datang dari orang-orang yang kalah taruhan atas dirinya dan melampiaskan amarah dengan kata-kata kasar.
Katie menekankan bahwa ancaman semacam ini selalu ada, tak peduli ia menang atau kalah: “Selalu saja ada yang bertaruh padaku dan kecewa—lalu mengirimkan ancaman.” Meskipun sebagian besar pesan tersebut mungkin tidak benar-benar berbahaya secara fisik, dampak psikologisnya terhadap para atlet sangatlah nyata.
Ancaman Ini Mengganggu Kesehatan Mental dan Performa
Sebagai atlet profesional berpengalaman, Boulter mengaku lebih tahan terhadap tekanan. Namun, ia merasa khawatir terhadap para pemain muda atau pendatang baru yang belum memiliki sistem pendukung kuat untuk menghadapi tekanan semacam ini. Tekanan mental yang ditimbulkan dari ancaman bisa mengikis rasa percaya diri seorang atlet, bahkan sampai mengganggu performa mereka di lapangan.
Katie juga memperingatkan bahwa dampak dari ancaman ini tak hanya dirasakan oleh individu, tapi bisa merembet ke kompetisi secara keseluruhan. Ketakutan akan serangan pribadi bisa membuat pemain bermain hati-hati, menghindari risiko, atau tampil di bawah kemampuan terbaik mereka.
Meskipun sebagian besar ancaman berasal dari petaruh individu yang kecewa, Boulter juga menyoroti sisi yang lebih mengkhawatirkan. Dalam beberapa kasus, ada upaya dari kelompok kriminal yang mencoba mempengaruhi atlet, baik dengan iming-iming uang maupun ancaman, demi mengatur hasil pertandingan atau momen-momen tertentu dalam laga.
Fenomena ini memang bukan hal baru, tapi kemudahan akses langsung ke atlet lewat media sosial membuat para pelaku jahat semakin gampang menjangkau targetnya.
Seruan Tindakan: Lembaga Olahraga Harus Hadapi Pelecehan Online
Masalah pelecehan online yang berkaitan dengan taruhan olahraga mulai menjadi perhatian serius bagi banyak pihak di dunia olahraga. Di Amerika Serikat, lembaga seperti NCAA sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian dan lembaga pemantau independen untuk mengidentifikasi serta memberikan sanksi kepada pelaku ancaman terhadap atlet mahasiswa.
Meskipun masih banyak celah hukum, terutama jika menyangkut pelaku lintas negara atau anonim di dunia maya, tekanan publik mulai menguat agar ada langkah konkret. Banyak pihak dalam komunitas olahraga kini menyuarakan pentingnya menindak para petaruh kasar, bukan hanya untuk melindungi atlet—tapi juga untuk menjaga sportivitas dan integritas dunia olahraga.
